'Swacikal' Teramat asing, teramat jelas berjalan bising... lajur yang kupinta, kini tiada pula diperbuat, lajur nafsuku belaka... Aku t'lah meminang jalan hidup, untuk bersama bersenggama Aku t'lah mengawin setiap ajaran perjalanan, dari alam nir paranoia Kembali bersila, memutar pusat relung maya Sementara selama waktu lampau aku tak menemukan apa-apa, kini ku peristri semesta Tiada tara... tiada padanan setara Suaranya meresap menjamah setiap degup kardia... aku bersamanya, tanpa takut, tanpa ragui, tanpa khawatir... tanpa cemburu maupun kecewa Ia membisik dari sela-sela ranting tua... Menyentuh dari bebatuan dan tanah bekas hujan, bekas kotoran vetebrata Ia memberiku buah dada, dari bukit yang menjulang nampak indahnya... Ia memberiku lubang trah, dari mata air di hulu-hulu pedalaman yang sukar disentuh telapak hasta Ia membiarkanku menjamah tanah dan memagarinya dengan akar dan tunas-tunas muda Aku membuahi dari setiap hela nafas kala semesta mera...
Membangun Kembali Fundamen Politik Proletariat Dari Haymarket 1886 menuju zaman yang nyata, zaman yang terjadi, baik sekarang ini maupun masa yang akan datang, sudah sangat jelas, nasib buruh lahir dari titik-titik perjuangan dan penuntutan hak yang masif dari kepalan tangan mereka sendiri. Buruh dibekali oleh sikap kemandirian menyikapi banyak kontradiksi atas perbedaan kelas yang seringkali memunculkan stigma-stigma terhadap pola kehidupan sosial mereka. Upaya-upaya untuk memperbaiki hak-hak kaum proletar melalui keputusan Konferensi Sosialis Internasional pada 1 Mei 1889 merupakan hasil dan janin yang lahir dari perlawanan 'martir' terhadap kebijakan borjuasi dan kejamnya masa awal budaya kapitalistik dunia pasca revolusi industri. Lalu bagaimana wajah kaum buruh setelahnya? Lantas bagaimana kita menyebut itu sebagai suatu keberhasilan jikalau dunia masih terpisahkan oleh dinding-dinding nir-faktual dan pembungkaman situasi terhadap wajah dunia yang sebenarnya? Ko...