'Swacikal'
Teramat asing, teramat jelas berjalan bising... lajur yang kupinta, kini tiada pula diperbuat, lajur nafsuku belaka...
Aku t'lah meminang jalan hidup, untuk bersama bersenggama
Aku t'lah mengawin setiap ajaran perjalanan, dari alam nir paranoia
Kembali bersila, memutar pusat relung maya
Sementara selama waktu lampau aku tak menemukan apa-apa, kini ku peristri semesta
Tiada tara... tiada padanan setara
Suaranya meresap menjamah setiap degup kardia... aku bersamanya, tanpa takut, tanpa ragui, tanpa khawatir... tanpa cemburu maupun kecewa
Ia membisik dari sela-sela ranting tua...
Menyentuh dari bebatuan dan tanah bekas hujan, bekas kotoran vetebrata
Ia memberiku buah dada, dari bukit yang menjulang nampak indahnya...
Ia memberiku lubang trah, dari mata air di hulu-hulu pedalaman yang sukar disentuh telapak hasta
Ia membiarkanku menjamah tanah dan memagarinya dengan akar dan tunas-tunas muda
Aku membuahi dari setiap hela nafas kala semesta meraba mesra... aku beranak pinak falsafah, serta rentetan norma fundamental dari metafora
Aku menemaninya hingga menua, sembari kembali ku teguk ayahuasca
Dan bersenandung bersamanya... aku akan pergi, sebab semenjak lama aku tak pernah menemukan apa-apa...
...kini segala inti sari bersua dalam satu warna
Aku akan berjanji dan mengikat setia, untuk menyerta Ia tumbuh meski dalam sengsara
Biar aku hidup tak semenjana... bersama pepohonan dan padang sabana
Bersama jelita tanpa nama, yang menatapku dengan mata surya.
AL, 27/7/2019
Teramat asing, teramat jelas berjalan bising... lajur yang kupinta, kini tiada pula diperbuat, lajur nafsuku belaka...
Aku t'lah meminang jalan hidup, untuk bersama bersenggama
Aku t'lah mengawin setiap ajaran perjalanan, dari alam nir paranoia
Kembali bersila, memutar pusat relung maya
Sementara selama waktu lampau aku tak menemukan apa-apa, kini ku peristri semesta
Tiada tara... tiada padanan setara
Suaranya meresap menjamah setiap degup kardia... aku bersamanya, tanpa takut, tanpa ragui, tanpa khawatir... tanpa cemburu maupun kecewa
Ia membisik dari sela-sela ranting tua...
Menyentuh dari bebatuan dan tanah bekas hujan, bekas kotoran vetebrata
Ia memberiku buah dada, dari bukit yang menjulang nampak indahnya...
Ia memberiku lubang trah, dari mata air di hulu-hulu pedalaman yang sukar disentuh telapak hasta
Ia membiarkanku menjamah tanah dan memagarinya dengan akar dan tunas-tunas muda
Aku membuahi dari setiap hela nafas kala semesta meraba mesra... aku beranak pinak falsafah, serta rentetan norma fundamental dari metafora
Aku menemaninya hingga menua, sembari kembali ku teguk ayahuasca
Dan bersenandung bersamanya... aku akan pergi, sebab semenjak lama aku tak pernah menemukan apa-apa...
...kini segala inti sari bersua dalam satu warna
Aku akan berjanji dan mengikat setia, untuk menyerta Ia tumbuh meski dalam sengsara
Biar aku hidup tak semenjana... bersama pepohonan dan padang sabana
Bersama jelita tanpa nama, yang menatapku dengan mata surya.
AL, 27/7/2019

Comments
Post a Comment