Tanah liat
Nubuat datang memahkota primata
Dipasrah mandat... pasrah pada beribu cara pandang
...dan nafsu yang panjang melintang
Maka dijadikannya para pemimpin
Mereka jauh terpisah, berkerumun saling berpasangan
Maka Dia melihat dari sisi bantaran
Kala kawanan kera terhuyung kebingungan
...berbuat macam tujuan
Menebar cinta... menebar ketakutan
Sementara itu batalyon iblis memandang dari pembuluh vena
Malaikat termenung menelisik dan dirundung tanya
Kala Dia masih memandang mega mancapada
Hari-hari berlanjut dengan hadir di sana
Para primata t'lah jumawa memilih jalannya...
Maka langit terang benderang dan sangkur terasah sempurna...
Larilah lari namun tiada guna... kawanan kera membunuh kera, kera memperkosa kera, di lapangnya dungu dan buruknya rupa
Namun ambil sisi baiknya, mereka mati menjaga seimbang jumlahnya
Kawanan kera dalam altar retorika... berseteru demi sepokok batang flora
Kawanan kera hidup bersenjata... musuhnyapun sesama kera
Kera bersumpah dan menyumpah serapah, kera beranjak meninggalkan dermaga... namun kera lebih dahulu membakar sarangnya
...
Kemudian di candradimuka para primata...
Kera-kera saling bicara perihal tangga tuju nirwana
Ada kera dipasangi bom, ada kera mengaku gorila, ada banyak cara menggapai swarga
Mereka berebut bilik senggama dan percaya bahwa diri mati istimewa
Kera ini banyak bicara... hingga yang lain mati sengsara
Kera bergumul dalam arena perburuan
Kera-kera berada pada lingkaran, disekat polarisasi tanpa sepakat
Kera mati berdebat
Kera sekarat
Akhir kisah...
Nubuat memahkota primata
Di suatu lapang hamparan
Dan ular-ular akan mengais euforia
Bersulang di akhir narasi, sebelum sang akhir bertandang di sela daki selangkang dosa
Sementara hilang sadar...
Kera belum pula puas saling menindas... para kera berpesta piranti angkara
...
Datang mula, maka musti tiba usainya
Tanah retak... gunung diputar balikan, surya sejengkal jari dari kepala, usailah cerita... nubuat mahkota primata.
AL, 31/7/2019

Comments
Post a Comment